Menuai Rezeki Yang Berkah

Tuesday, July 26, 2005

keluh kesah01

(Embedded image moved to file: pic07636.jpg)
Picture source: www.sabah.gov.my/jheains/ Bersyukur_tanda_kete.

(Embedded image moved to file: pic30714.jpg)

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.
Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,
dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang
mengerjakan shalat,
yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, (QS: Al-Ma'aaru: 70/19-23).

Burruung

Gaaambar


test

MENGIMANI TAKDIR

Mengimani Takdir

Dalam memahami takdir, ada dua kutub yang berpandangan ekstrem. Di satu
pihak ada yang sama sekali menafikan kekuasaan Allah. Di pihak lain ada
yang menganggap manusia laksana boneka. Kutub Jabbariyah dan Qadariyah!

Suatu ketika Nabi Isa sedang melakukan ibadah di puncak sebuah gunung.
Tiba-tiba iblis datang menemuinya seraya berkata,

“Engkaukah orang yang meyakini bahwa segala sesuatu ditakdirkan Allah?”

“Benar,” jawab Nabi Isa.

“Terjunlah dari puncak gunung ini dan katakan, ‘Ini sudah ditakdirkan
Allah!’” ujar iblis.

“Wahai makhluk terlaknat, Allahlah yang menguji manusia, bukan manusia yang
menguji Allah.”

Jawaban Nabi Isa yang dipaparkan Yusuf Qaradhawi dalam bukunya ath-Thariq
ilallah: at-Tawakul itu, mengisyaratkan bahwa manusia mempunyai hak untuk
berbuat. Perdebatan masalah ini telah terjadi sejak lama. Dalam sebuah
hadits yang diriwayatkan Tirmidizi, ketika ditanya oleh seorang laki-laki
tentang apakah untanya harus diikat atau tidak, Rasulullah saw bersabda,
“Ikatkan (untamu), lalu bertawakkal.”

Allah membukakan hati para hamba-Nya yang beriman. Merekalah para salafus
shalih yang selalu menempuh jalan kebenaran dalam memahami masalah ini.
Menurut mereka, qadha’ dan qadar termasuk rububiyah Allah atas makhluk-Nya.
Karenanya, masalah qadha dan qadar termasuk satu di antara tiga macam
tauhid: al-uluhiyah, rububiyah, dan al-asma’ was sifat.

Iman kepada qadar termasuk tauhid rububiyah. Karena itu Imam Ahmad berkata,
“Qadar adalah kekuasaan Allah.” Secara umum dalam masalah qadar ini
mengemuka tiga pendapat. Pertama, mereka yang ekstrem dalam menetapkan
qadar dan menolak adanya kehendak dan kemampuan makhluk. Paham ini mulai
merebak secara resmi sekitar 70 H di masa pemerintahan Abdul Malik bin
Marwan dari Bani Umayyah. Aliran ini pertama kali muncul di Khurasan yang
dicetuskan oleh al-Ja’d bin Dirham. Lalu, dikembangkan oleh al-Jahm bin
Shafwan. Dalam sejarah keilmuan paham ini dikenal dengan Jabbariyah atau
Fatalism.

Paham ini berpendapat, manusia sama sekali tak mempunyai kemampuan. Ia
disetir dan tidak mempunyai pilihan dalam melakukan sesuatu. Mereka tidak
membedakan antara perbuatan manusia yang terjadi dengan kemauannya, dan
yang terjadi tanpa kemauannya.

Tentu saja paham ini keliru dan sesat. Sebab, menurut Islam, akal dan adat
kebiasaan manusia dapat membedakan antara perbuatan yang dikehendaki dan
perbuatan yang terpaksa.

Kedua, mereka yang ekstrem dalam menetapkan kemampuan dan kehendak makhluk.
Mereka menolak turut campur Allah dalam perbuatan hamba-Nya.

Dalam sejarah keilmuan, aliran ini dikenal dengan paham Qadariyah atau Free
Will. Munculnya aliran ini bersamaan dengan lahirnya paham Jabbariyah. Di
antara penyebar aliran ini adalah Ma’bad al-Juhaini yang wafat pada 690 M.

Menurut mereka, manusia memiliki kebebasan atas perbuatannya. Bahkan, ada
di antara mereka yang mengatakan, Allah SWT tidak mengetahui apa yang
diperbuat manusia kecuali setelah terjadi. Kelompok ini pun sangat ekstrem
dalam menetapkan kemampuan dan kehendak makhluk.

Ketiga, mereka yang beriman, sehingga diberi petunjuk oleh Allah untuk
menemukan kebenaran yang diperselisihkan. Merekalah ahlus sunnah wal
jama’ah. Dalam masalah ini mereka menempuh jalan tengah dengan berpijak
pada dalil syar’i dan ‘aqli. Mereka berpendapat bahwa perbuatan yang
dijadikan Allah di alam semesta ini terbagi atas dua macam:

Pertama, perbuatan yang dilakukan Allah terhadap makhluk-Nya. Dalam hal ini
tak ada kekuasaan dan pilihan bagi siapa pun. Seperti, turunnya hujan,
tumbuhnya tanaman, kehidupan, kematian, sakit, sehat dan banyak contoh
lain. Dalam hal ini, tak ada kekuasaan dan kehendak kecuali Allah.

Kedua, perbuatan yang dilakukan oleh semua makhluk yang mempunyai kehendak.
Perbuatan ini terjadi atas dasar keinginan dan kemauan pelakunya karena
Allah menjadikannya untuk mereka. Sebagaimana firman Allah, “Maka
barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang
ingin (kafir) biarlah ia kafir,” (QS al-Kahfi: 29).

Dalam ayat lain Allah berfirman, “Di antara kamu ada orang yang menghendaki
dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat,” (QS Ali
Imran: 152).

Secara fitrah, manusia bisa membedakan antara perbuatan yang terjadi karena
kehendaknya sendiri, dan yang terjadi karena terpaksa. Misalnya, orang yang
dengan sadar turun dari atas rumah melalui tangga. Ia tahu bahwa perbuatan
nya itu atas kehendaknya sendiri. Berbeda kalau ia terjatuh dari atas
rumah. Ia tahu bahwa hal tersebut bukan karena kemauannya. Dia dapat
membedakan antara kedua perbuatan ini. Yang pertama atas dasar kemauannya
dan yang kedua tanpa kemauannya.

Paham Jabbariyah jelas mengabaikan adanya syariat. Sebab, jika dikatakan
bahwa manusia tak mempunyai kehendak dalam perbuatannya, berarti tidak
perlu dipuji atas perbuatan baiknya, dan tak perlu dicela atas perbuatan
buruknya. Karena pada hakikatnya perbuatan tersebut dilakukan tanpa
keinginannya.

Pendapat ini jelas sangat bertentangan dengan firman Allah SWT, “Dan
(malaikat) yang menyertai dia berkata, ‘Inilah (catatan amal-Nya) yang
tersedia pada sisiku’, Allah berfirman, ‘Lemparkanlah olehmu berdua ke
dalam Neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala; yang
sangat enggan melakukan kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu; yang
menyembah sembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah dia ke dalam
siksaan yang sangat’. Sedang (syaitan) yang menyertai dia berkata, ‘Ya
Tuhan kami, aku tidak menyesatkan-Nya, tapi dialah yang berada dalam
kesesatan yang jauh.’ Allah berfirman, ‘Janganlah kamu bertengkar di
hadapanKu, padahal sesungguh-Nya Aku dahulu telah memberikan ancaman
kepadamu. Keputusan di sisiKu tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak
menganiaya hamba-hambaKu’,” (QS Qaaf: 23-29).

Dalam ayat ini Allah menjelaskan, siksaan itu ada karena ke-Maha Adil-an
Allah. Bukan karena kezaliman Allah atas makhluk-Nya. Allah telah
memberikan peringatan dan ancaman pada mereka dan menjelaskan jalan
kebenaran dan kesesatan bagi manusia. Namun, mereka memilih jalan
kesesatan. Kelak, mereka tak punya alasan untuk membantah keputusan-Nya.

Inilah maksud firman Allah, “(Kami utus mereka) sebagai rasul-rasul pembawa
berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi
manusia membantah Allah sesudah diutus-Nya rasul-rasul itu. Dan Allah Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana,” (QS an-Nisa’: 165).

Paham Qadariyah pun bertentangan dengan syariat. Sebab, banyak ayat yang
menjelaskan bahwa kehendak manusia tidak lepas dari kehendak Allah. Firman
Allah, “(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang
lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali
apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam,” (QS at-Takwir: 28-29).

Mereka yang menganut pendapat ini berarti mengingkari salah satu aspek
rububiyah Allah. Mereka juga berprasangka bahwa Allah tidak mengetahui
ciptaan-Nya. Padahal Allahlah yang menghendaki segala sesuatu,
menciptakannya dan menentukan takdirnya. Kalau semuanya kembali kepada ke
hendak Allah dan berada di tangan Allah, lalu apakah jalan dan upaya yang
akan ditempuh seseorang jika ditakdirkan sesat?

Jawabannya, Allah menunjuki orang-orang yang patut mendapat petunjuk dan
menyesatkan orang-orang yang patut sesat. Firman Allah, “Maka tatkala
mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka dan Allah
tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik,” (QS ash-Shaff: 5).

Dalam ayat lain dijelaskan, “(Tetapi) karena mereka melanggar janji-Nya,
Kami kutuk mereka dan Kami jadikan hati mereka keras membatu, mereka suka
mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempat-Nya, dan mereka (sengaja)
melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan
dengan-Nya,” (QS al-Maidah: 13).

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia tak menyesatkan orang yang sesat
kecuali disebabkan oleh dirinya sendiri. Manusia tak dapat mengetahui apa
yang telah ditakdirkan Allah untuk dirinya. Karena dia tak mengetahui
takdirnya kecuali kalau sudah terjadi, maka dia tidak tahu apakah ditakdir
kan Allah sesat atau mendapat petunjuk.

Ironisnya banyak yang berpaham Qadariyah ketika dalam ketaatan, dan menjadi
Jabbariyah saat dalam kemaksiatan. Dalam ketaatan ia berkata,
“Ini kuperoleh dari diriku sendiri.” Sedangkan dalam kemaksiatan ia
berkata, “Ini sudah takdirku.”

Padahal, manusia mempunyai kehendak dan kemampuan. Masalah hidayah sama
halnya dengan rezeki dan menuntut ilmu. Manusia telah ditentukan rezeki
yang menjadi bagiannya. Namun demikian dia harus tetap berusaha untuk
mencari rezeki. Tidak duduk saja di rumah seraya berkata, “Kalau sudah di
takdirkan rezekiku tentu akan datang dengan sendirinya.”

Sebaliknya, ia juga tidak boleh sombong seraya mengatakan, “Semua yang
kudapat karena usahaku sendiri. Tanpa ada turut campur dari Allah.” Semua
yang terjadi berada dalam kekuasaan Allah. Manusia hanya mampu berusaha.

Jalan kini terbentang dua. Kafir atau Mukmin. Allah dengan sifat
hikmah-Nya, menentukan hidayah bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dengan
sifat hikmah-Nya pula, Dia menentukan kesesatan bagi siapa yang suka
kesesatan dan hatinya tak senang dengan Islam. Sifat hikmah Allah tak dapat
menerima jika orang yang suka kesesatan termasuk dalam golongan mereka yang
mendapat petunjuk, kecuali jika Allah memperbaiki hatinya dan mengubah ke
hendak-Nya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Namun, sifat hikmah-Nya
menetapkan, setiap sebab berkaitan erat dengan akibat. Wallahu a’lam.

BERAPA LAMA KITA DIKUBUR

Berapa lama kita dikubur?

Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira di
atas jalanan Menyeberangi kawasan lampu merah Karet. Baju merahnya yang
kebesaran melambai lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang es krim
Sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi, sementara tangan
kirinya mencengkram ikatan sabuk celana ayahnya. Yani dan ayahnya memasuki
wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak ke kanan dan kemudian duduk
di atas seonggok nisan

"Hj Rajawali binti Muhammad 19-10-1905:20-01-1965"
"Nak, ini kubur nenekmu mari kita berdo'a untuk nenekmu" Yani melihat wajah
ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yang mengangkat ke atas dan ikut
memejamkan mata seperti ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo'a untuk
neneknya...

"Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya yah." Ayahnya mengangguk
sembari tersenyum sembari memandang pusara Ibu-nya. "Hmm, berarti nenek
sudah meninggal 36 tahun ya yah..." kata Yani berlagak sambil matanya
menerawang dan jarinya berhitung.
"Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 36 tahun ... " Yani memutar kepalanya,
memandang sekeliling, banyak kuburan di sana. Di samping kuburan neneknya
ada kuburan tua berlumut "Muhammad Zaini : 19-02-1882 : 30-01-1910"

"Hmm.. kalau yang itu sudah meninggal 91 tahun yang lalu ya yah" jarinya
menunjuk nisan disamping kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya mengangguk.
Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya.
"Memangnya kenapa ndhuk ?" kata sang ayah menatap teduh mata anaknya.
"Hmmm, ayah khan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan
kita banyak dosanya, kita akan disiksa di neraka " kata Yani sambil meminta
persetujuan ayahnya. "Iya kan yah?"
Ayahnya tersenyum, "Lalu?"
"Iya .. kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 36 tahun
dong yah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 36 tahun
nenek senang di kubur .... ya nggak yah?"
Mata Yani berbinar karena bisa menjelaskan kepada ayahnya pendapatnya.
Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas
..... "Iya nak, kamu pintar," kata ayahnya pendek.

Pulang dari Pemakaman, ayah Yani tampak gelisah di atas sajadahnya,
memikirkan apa yang dikatakan anaknya ... 36 tahun ... hingga sekarang
...kalau kiamat datang 100 tahun lagi ....136 tahun disiksa .. atau bahagia
di kubur .... Lalu ia menunduk ... meneteskan air mata ... Kalau ia
meninggal .. lalu banyak dosanya ... lalu kiamat masih 1000 tahun
lagi berarti ia akan disiksa 1000 tahun? Innalillaahi wa inna ilaihi
rooji'un ... air matanya semakin banyak menetes.....Sanggupkah ia selama
itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke
depan ..kalau 2000 tahun lagi ? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia akan
disiksa di kubur .. lalu setelah dikubur? Bukankah akan lebih parah lagi?
Tahankah? Padahal melihat adegan preman dipukuli massa ditelevisi kemarin
ia sudah tak tahan?

Ya Allah ...ia semakin menunduk .. tangannya terangkat keatas..bahunya naik
turun tak teratur.... air matanya semakin membanjiri jenggotnya .....
Allahumma as aluka khusnul khootimah berulang kali di bacanya doa itu
hingga suaranya serak ... dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk
Yani.

Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan bambu... dibetulkannya
selimutnya. Yani terus tertidur ...tanpa tahu, betapa sang bapak sangat
berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya .. arti Sebuah
kehidupan... dan apa yang akan datang di depannya...

HATI-HATI PENIPUAN

Assalamu'alaikum wr wb

HATI-HATI PENIPUAN

Sekedar pemberitahuan untuk hati2 karena sudah ada teknik penipuan baru :

Ceritanya gini:
Temenku yang kuliah di UI bulan lalu pernah ketemu sama seorang ibu yang
mengenakan jilbab/gamis yang rapi dengan membawa tas. Kemudian menanyakan
arah RSCM dari UI. Lama kelamaan... si ibu mulai curhat tentang keberadaan
dirinya sambil nangis2. Dia cerita kalo dia itu "katanya" mantan TKI dan
baru pulang dari malaysia. Dia punya anak yang sakit keras yang sedang
dirawat di RS. Biayanya 400 ribu, katanya masih kurang 50 ribu lagi, lalu
minta tolong sama temenku itu buat nambahin biaya rumah sakit yang kurang.
Sampe bilang Demi Allah segala sambil nangis2. Kalo orang yang baru
pertama kali ngeliat tu ibu, pasti langsung jatuh hati deh, apalagi buat
para akhwat2 yng ga tegaan. Kayaknya langsung dikasih deh tuh duitnya.
Makanya.. temenku itu ngasih duitnya 30 rb. Soalnya abis ngambil duit dari
ATM. (wah wah mangsa empuk nih )

Sekilas mungkin banyak memberi tanggapan:
A: Husnudzon lah siapa tau emang bener,
B: Niatnya kan bantu saudara sendiri, apalagi buat bantu ibu yang punya
anak sakit. Kan kasian....
C: Aduuhh.... pliss deh, Masa sih tega amat ga mau bantu barang 50rb aja
buat si Ibu itu.
D: Dll.....

Sebulan kemudian......Dengan orang yang sama...korban yang sama....cerita
yang sama....cara yang sama....
Patut dicurigai kan??? Kalo misalnya bulan kemarin kurangnya 50 rb. Kenapa
sekarang masih minta lagi kalo perawatan di rumah sakitnya udah beres n
yang kurang itu cuma 50rb buat bayar yang kurang bulan lalu.
Dengan orang yang sama..korban berbeda....cerita yang sama...cara yang
sama....semudah itu dia merayu korban untuk mengeluarkan duitnya, Tau
enggak??? sampe2 minta dikeluarin aja duit yang ada di tabungan (temen
kerja cerita sama daku)....pliss deh emangnya semudah itu??? n temenku
itu liat si ibu itu lagi merayu korban lain. Dia kirain emang bener, eh
taunya itu salah satu TRICK yang gak bakalan ketahuan sama korban. Soalnya
dilihat dari cara berpakaiannya aja udah pake Gamis/berjilbab rapi,
ngomongnya yang ke-Akhwatan gitu, n meyakinkan banget dengan bumbu2 (Demi
Allah, mencucurkan air mata)...uuhh gak kuat deh...Dengan orang yang beda
penampilan yang sama....cara yang sama...cerita yang beda....korban yang
sama tapi untungnya ketahuan and kebeneran gak bawa duit hikss..

Kali ini si ibu ngaku2nya Muallaf. Ceritanya saudara2nya benci sama dia
karena dia muallaf. Lalu dia butuh duit trus minta2 duit sama korban dengan
cara yang sama, sambil nangis2 dll deh yang bikin kita gak kuat,... huhhh

Solusi dariku:
Kalo emang bener si Ibu itu anaknya sakit...mendingan datengin aja sama si
ibu anaknya yg lg di RS. Kalo emang bener....It's ok.. Kalo nolak dgn
berbagai alasan.... Hehe ketahuan.. Untuk kasus yang lainnnya, mendingan
diajak ngobrol lebih jauh lagi, dan dicari solusinya

???? is there any reply from you guys???

Saat ini lokasi tersangka masih beroperasi di wilayah UI....(watch out!!!
siapa tau anda korban selanjutnya) Ati2 yak!! tolong kasi tau ama temen2
dirimu, jangan sampe kebablasan...

Wassalamu'alaikum wr wb...

MANGKUK TAK BERALAS


MANGKUK TAK BERALAS
Berdasarkan penuturan H. Muh. Nur Abdurrahman
WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
Kolom Tetap Harian Fajar - Makassar.Terimakasih!
-----------------------------------------

Seorang raja bersama pengiringnya keluar dari istananya untuk menikmati
udara pagi. Di keramaian, ia berpapasan dengan seorang pengemis. Sang raja
menyapa pengemis ini:
-- Apa yang engkau inginkan dari dariku?
Si pengemis itu tersenyum dan berkata:
-- Tuanku bertanya, seakan-akan tuanku dapat memenuhi permintaan hamba.
Sang raja terkejut, ia merasa tertantang:
-- Tentu saja aku dapat memenuhi permintaanmu. Apa yang engkau minta,
katakanlah!
Maka menjawablah sang pengemis:
-- Berpikirlah dua kali, wahai tuanku, sebelum tuanku menjanjikan apa-apa.
Rupanya sang pengemis bukanlah sembarang pengemis. Namun raja tidak
merasakan hal itu. Timbul rasa angkuh dan tak senang pada diri raja, karena
mendapat nasihat dari seorang pengemis.
-- Sudah aku katakan, aku dapat memenuhi permintaanmu. Apapun juga! Aku
adalah raja yang paling berkuasa dan kaya-raya.
Dengan penuh kepolosan dan kesederhanaan si pengemis itu mengangsurkan
mangkuk penadah sedekah:
-- Tuanku dapat mengisi penuh mangkuk ini dengan apa yang tuanku inginkan.
Bukan main! Raja menjadi geram mendengar 'tantangan' pengemis
dihadapannya.
Segera ia memerintahkan bendahara kerajaan yang ikut dengannya untuk meng
isi penuh mangkuk pengemis kurang ajar ini dengan emas!
Kemudian bendahara menuangkan emas dari pundi-pundi besar yang di bawanya
ke dalam mangkuk sedekah sang pengemis. Anehnya, emas dalam pundi-pundi
besar itu tidak dapat mengisi penuh mangkuk sedekah.

Tak mau kehilangan muka di hadapan rakyatnya, sang raja terus memerintahkan
bendahara mengisi mangkuk itu. Tetapi mangkuk itu tetap kosong. Bahkan
seluruh perbendaharaan kerajaan: emas, intan berlian, ratna mutumanikam
telah habis dilahap mangkuk sedekah itu. Mangkuk itu
seolah tanpa dasar, berlubang.

Dengan perasaan tak menentu, sang raja jatuh bersimpuh di kaki si pengemis
bukan pengemis biasa, terbata-bata ia bertanya :
-- Sebelum berlalu dari tempat ini, dapatkah tuan menjelaskan terbuat dari
apakah mangkuk sedekah ini?
Pengemis itu menjawab sambil tersenyum:
-- Mangkuk itu terbuat dari keinginan manusia yang tanpa batas. Itulah yang
mendorong manusia senantiasa bergelut dalam hidupnya. Ada kegembiraan,
gairah memuncak di hati, pengalaman yang mengasyikkan kala engkau mengingin
kan sesuatu. Ketika akhirnya engkau telah mendapatkan keinginan itu, semua
yang telah kau dapatkan itu, seolah tidak ada lagi artinya bagimu. Semuanya
hilang ibarat emas intan berlian yang masuk dalam mangkuk yang tak beralas
itu. Kegembiraan, gairah, dan pengalaman yang
mengasyikkan itu hanya tatkala dalam proses untuk mendapatkan keinginan.
Begitu saja seterusnya, selalu kemudian datang keinginan baru. Orang tidak
pernah merasa puas. Ia selalu merasa kekurangan.
Anak cucumu kelak mengatakan : power tends to corrupt; kekuasaan cenderung
untuk berlaku tamak.
Raja itu bertanya lagi :
-- Adakah cara untuk dapat menutup alas mangkuk itu?
-- Tentu ada, yaitu rasa syukur kepada Allah SWT. Jika engkau pandai
bersyukur, Allah akan menambah nikmat padamu*
Ucap sang pengemis itu, sambil ia berjalan kemudian menghilang dari mata
khalayak.

*[ dari QS Ibraahiim; 14:7 ]

Monday, July 25, 2005

Tawakal

TAWAKAL













Picture source: www.hermawan.com/gallery/ displayimage.php?alb

……………………………..



………………………. "Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali." (QS: AlMumtahana: 60/4)

Keluh Kesah

KELUH KESAH





















Picture source: www.sabah.gov.my/jheains/ Bersyukur_tanda_kete...







Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.
Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,
dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat,
yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, (QS: Al-Ma'aaru: 70/19-23).